Tak Mampu Beli Beras Warga Desa ini Makan Nasi Loyang

Tak Mampu Beli Beras Warga Desa ini Makan Nasi

Kabarseru.com – Tak mampu beli beras warga Desa Slatri, Kecamtan Larangan, Brebes Jawa Tengah terpaksa konsumsi nisa aking, atau istilah jawa Sego Loyang yaitu sisa nasi dalam porsi banyak yang di keringkan bawah sinar matahari menjadi nasi kering (karag).

Salah satunya adalah Sakhah seorang kepala rumah tangga berusia 52 tahun waga setempat, setiap hari hanya bisa mengonsumsi nasi aking karena tidak memiki uang cukup untuk beli beras.

“Sudah lama kami makan nasi aking, sekarang ini harga beras mahal kami tidak punya uang cukup untuk beli beras, hanya cukup untuk beli nasi aking,” ujar Sakhah di kediamanya, Sabtu 26 Maret 2016.

Sakhah tinggal di rumah sangat sederhana bersama Istrinya Sudinah, 70 tahun dan anak gadisnya Atika 15 tahun, Sakhah tidak memiliki pekerjaan tetap alias serabutan dengan penghasilan antara cukup dan tidak.

Warga Desa Slatri, Kecamtan Larangan, Brebes Jawa Tengah masih banyak yang hidup bawah garis kemiskinan, untuk bertahan hidup mangganjal perut mereka mengonsumsi nasi aking.

Untuk menambah cita rasa nasi aking biasa warga menambah garam dan kelapa, untuk mendapatkan nasi aking warga biasa beli sama pedagan keliling kampung biasa harga nasi aking Rp 2.500/kg.

Mengonsumsi nasi aking tidak memiliki efek dalam pencernaan, hanya saja sebagai kepala rumah tangga bertanggung jawab merasa sedih karena hanya dengan nasi aking dapat memberi makan anak istri.

Terlebih lagi sang istri yang sudah uzur usia, fisik lemah tergolek diatas tempat tidur namun makannya tetap saja nasi aking. Nasi aking sejatinya di tujukan untuk memberi makan ayam, bebek, atau ternak lainnya.

Tak Mampu Beli Beras Warga Desa ini Makan Nasi

“Kami mau saja beli beras, namun apa mau di kata kalau uang kami tidak mencukupi, harga beras saat ini Rp 7,500/kg, meski kami tidak mampu beli beras tetap bersyukur masih dapat makan meski nasi aking,” ungkapnya.

Bahkan dengan nasi aking dapat menghemat pengeluaran karena harga nasi aking jauh lebih murah dari beras biasa bahkan raskin sekalipun.

“Makan nasi aking lebih mengenyangkan dari pada nasi biasa. Dan juga kenyangnya lebih lama,” kata Sakhah.

loading...

Leave a comment

Your email address will not be published.


*