Kisah Tukang Becak Pergi Haji Secara Misterius

Kisah Tukang Becak Pergi Haji Secara Misterius

Kabarseru.com – Kisah tukang becak pergi haji ini di alami oleh Mbah Kasrin 59 tahun warga Dukuh Gembul, Desa Sumberejo, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Aktifitas Mbah Kasrin sehari-hari menarik becak, tempat mangkalnya biasa di depan Masjid Agung Lasem, Rembang. Di katakan Pergi haji misterus karena nama Mbah Kasrim tidak tercamtum di daftar jemaah haji di Kantor Kementerian Agama.

Selasa 4 Oktober 2016 Mbah Kasrin baru pulang setelah 44 hari di mekah menunaikan ibadah haji, kepulangan Mbah Kasrin di sambut secara beramai-ramai oleh warga setempat termasuk anggota sanak kerabat Mbah Kasrin sendiri tentunya.

“Bapak pulang kemarin sekitar jam 09.00 di Masjid Lasem, kami beramai-ramai menjemputnya ke sana,” kata anak bungsu Mbah Kasrin bernama Istiqomah 32 tahun.

Kepulangan Mbah Kasrin dari pergi haji secara misterius membuat rumahnya ramai di datangi banyak tamu, mereka berasal dari berbagai wilayah, yang jauh datang berkunjung yang dekat tek perlu di tanya lagi. Tamu terus berdatangan yang telah lama datang undur diri demikian seterusnya hingga waktu larut malam.

Hingga waktu menjelang matahari terbit jam 5 subuh sudah ada yang mengucap salam dari balik pintu sisi luar, “Usai menunaikan salat Subuh, pintu sudah kembali di ketuk, ada tamu datang mereka penasaran ingin mendengar secara langsung kisah Mbah Kasrin pergi haji secara misterius.

Banyak tamu tidak di kenal karena mereka memang datang dari kota sebelah seperti Kudus, Semarang, Pati dan kota lainnya di Jawa Tengah, “Banyak tamu yang tidak kami kenal,” kata Istiqomah. Meski tamu tak di undang sekaligus tak di kenal, tuan rumah berkwajiban menyambut, menyalami dan menempatkan para tamunya senyaman mungkin.

Bagaimana kisah perjalanan Mbah Kasrin menuju mekah? Berikut alur kisahnya sebagaimana yang di tuturkan oleh Mbah Kasrin.

Kisah Tukang Becak Pergi Haji Secara Misterius

Mbak Kasrin berangkat dari rumahnya di Lasem saat malam hari menguntit Bu Indi, “Saya terus nginthil
(nginthil=mengikuti/nguntit) Bu Indi,” Mbah Kasrin mulai menuturkan kisahnya.

loading...

Leave a comment

Your email address will not be published.


*