Kisah Kakek Rahman, Penjual Koran Berjiwa Penolong Sejati

Kisah Kakek Rahman

Kabarseru.com — Kisah kakek rahman ini layak di contoh oleh siapapun, termasuk penulis sendiri. Pria berusia 77 tahun ini bekerja sebagai loper koran. Setiap pagi hari kakek ini jalan kaki sepanjang 1KM dari rumahnya di Menteng Dalam menuju SPBU Kota Kasablanka untuk mengais rejeki.

Pekerjaan itu sudah di jalani oleh Kakek Rahman sejak 6 tahun silam. Kakek mengais rezeki yang tidak seberapa nilainya bukanlah demi kebutuhannya sendiri melainkan untuk orang lain juga yang merasa lebih membutuhkan. Kakek rahman tinggal dengan anak cucunya di rumah yang hidup layak.

“Menjual koran tiap hari dari jam 6 pagi hingga jam 11. Pulang istirahat, salat. Nanti setelah jam 1 jualan koran lagi hingga jam 4 sore,” kata Kakek dengan nama komplit Abdul Rahman sebagaimana di lansir dari merdeka.com 28 Oktober 2016.

“Saya tidak kepikiran untuk minta sama anak. Saya lebih baik mencari sendiri dengan jualan koran dari pada harus meminta. Uang hasil jualan koran buat beli jajan cucu. Ngasih anak yatim. janda-janda atau siapa saja yang lebih membutuhkan,” kata Kakek Rahman.

Kakek Rahman ini menderita penyakit tumor di bagian wajahnya sejak tahun 1985, hingga sekarang Kakek Rahman sudah menjalani Operasi sebanyak 4 kali, akibat dari itu pula menyebabkan mata kanannya saat ini sudah tidak berfungsi.

Meski banyak orang menaruh rasa simpati, merasa kasihan sama Kakek Rahman, namun dirinya tidak pernah berharap mendapat belas kasihan dari orang lain. Kakek ini selalu menolak jika ada orang lain yang mencoba memberikan uang tanpa mengambil koran yang di jualnya.

“Selagi saya masih bisa berusaha sendiri, saya tidak mau minta-minta. Kalau ada yang beli koran, saya selalu mengembalikan uang kembaliannya sesuai nominal uang yang di gunakan. Jika ada yang sengaja memberi saya uang Saya tanya dulu ihklas apa tidak, jika ihklas baru di terima,” kata Kakek Rahman lagi.

Kisah Kakek Rahman, Penjual Koran Berjiwa Penolong Sejati

Menjadi peminta-minta seperti pengemis bagi Kakek Rahman tidak ada kamusnya. “Meski hidup kita miskin. Tetapi bukan berarti harus menjadi orang malas berusaha lalu mengandalkan belas kasihan orang lain. Kalau ada Rezeki walau sedikit kita harus ingat dengan orang lain yang sama-sama membutuhkan, ini baru namanya bentuk kasih sayang sejati, bukan memberi tetapi mengharap balasan di kemudian hari, itu namanya saling memberi,” pungkasnya.

Sayang di zaman sekarang jiwa Kakek Rahman sudah sangat langka di temukan, orang-orang lebih sibuk dengan urusannya sendiri. Terus mengejar dan memburu harta duniawi tanpa kenal batas. Banyak kurang banyak, malah semakin banyak justru kian tamak.

loading...

Leave a comment

Your email address will not be published.


*